Rupiah dan IHSG kompak !

1
142
Luar Biasa !!!, Rupiah Ahir Pekan Ini Ditutup di Angka Rp 14.300
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: cnbnindonesia.com

Jakarta, PartaiPPP.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (3/10/2018), di tengah berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,13% atau 7,88 poin ke level 5.867,74. Padahal, indeks sempat rebound menyentuh level 5.921 setelah dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,02% di posisi 5.874,49.

IHSG melemah di saat bursa saham lain di kawasan Asia cenderung bergerak variatif, dengan indeks FTSE Straits time yang menguat 0,69%, indeks FTSE Malay KLCI yang melemah 0,1%, indeks SE Thailand turun 0,08%, sedangkan indeks PSEi Filipina menguat 1,1%.

Baca juga:

IHSG melanjutkan pelemahannya di saat rupiah kembali ditutup melemah ke level terendahnya sejak krisis ekonomi 1998 silam.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,21% atau 32 poin ke level Rp15.075 per dolar AS setelah bergerak pada kisaran Rp15.065-Rp15.088.

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka dengan pelemahan 22 poin atau 0,15% di level Rp15.065 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Selasa (2/10/2018), rupiah berakhir terjerembap 132 poin atau 0,89% di posisi Rp15.043 per dolar AS.

Meski terus melemah, Senior Portofolio Manager Equity PT Manulife Asset Management Indonesia Samuel Kesuma menilai, ada enam hal yang bisa menjadi faktor kunci pulihnya pergerakan indeks.

Pertama, berkurangnya ketidakpastian dari sisi eksternal, khususnya terkait perundingan konflik dagang dan berkurangnya kekhawatiran penularan krisis ekonomi pada negara berkembang. Kedua, kebijakan proaktif bank sentral dalam menopang nilai tukar rupiah.

Ketiga, kondisi fiskal yang lebih baik, di mana laju kenaikan pendapatan negara lebih besar dibandingkan dedngan laju kenaikan belanja negara. Sampai dengan 31 Juli 2018 penerimaan pajak tumbuh 14,36% YoY, sementara belanja negara tumbuh 7,7% YoY.

“RAPBN 2019 juga terlihat lebih realistis dan achievable dengan mengedepankan displin fiskal dan menjaga daya beli masyarakat,” kata dia dalam riset yang dikutip, Rabu (3/10/2018).

Keempat, situasi politik menjelang Pilpres yang diperkirakan akan tetap kondusif. Kelima, valuasi pasar saham yang lebih atraktif dan berkurangnya tekanan jual asing melihat kepemilikan asing pada pasar saham Indonesia yang relatif jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

“Keenam, secara umum stimulus ekonomi China dan perubahan nada kebijakan The Fed akan menguntungkan negara berkembang seperti Indonesia,” ujarnya.

regards,
Rikza Panin Asset Management
085691362899

1 KOMENTAR

Tinggalkan balasan