Pilihlah Pemimpin Yang Optimis

0
201

Pasca Pilpres 2014 lalu, dukungan ke masing-masing pasangan calon berlanjut menjadi dukungan terhadap pemerintah dan oposisi. Aksi dukung-mendukung tetap berlanjut meski pilpres telah usai. Berbagai hal terjadi hingga pada pilkada 2016 yang lalu, berbagai aksi dukung-mendukung tetap berlanjut hingga hari ini. Apalagi suana hari ini juga merupakan bagian dari kampanye jelang pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019 yang akan datang. Aksi saling serang baik dari kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi kian kentara dan menyita perhatian publik.

Dalam pidato di depan pelajarTaruna Nusantara di Istana Merdeka, Jokowi sangat optimis bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan masuk dalam 10 negara terbesar ekonomi terkuat sejajar dengan negara-negara maju seperti Cina dan Amerika Serikat.

“Hitung-hitungan dari Bank Dunia dan Bappenas, 2030 kita masuk 10 terbesar ekonomi terkuat,” ujar Jokowi dalam pidatonya saat berilaturahim dengan pelajar Taruna Nusantara di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (9/4/2018), dikutip dari laman kompas.com.

 

Presiden Jokowi: Indonesia 10 negara terkuat 2030
Presiden Jokowi pemimpin yang optimis

Lain Jokowi lain pula dengan Prabowo. Calon Presiden dari Partai Gerindra ini selalu pesimis akan keberadaqan Indonesia di masa yang akan datang. Sempat menyebut bahwa “Indonesia akan bubar para 2030”, membuat pole4mik pro dan kontra bermunculan. Apalagi jika melihat kondisi ekonomi di era Jokowi semakin membaik bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk yang terbaik se-Asia di bawah Cina dan India. Hal inilah yang menurut para ekonom menyebut bahwa Prabowo melakukan blunder dan menyebar pesimistin kepada rakyat.

Dalam sebuah judul pemberitaan media online tempo.com, Prabowo kembali mengeluarkan yang pernyataaqn yang meresahkan. Dengan judul yang bombastis, media online tersebut menulis, “Prabowo: Indonesia Terancam Menjadi Negara Miskin Selamanya.

Prabowo:Indonesia Bisa Miskin Selamanya
Prabowo Subianto, Pemimpin yang selalu pesimis

Menghadapi pilpres 2019, memang sah-sah saja seorang kandidat mengelurkan pendapat yang berseberangan dengan kandidat lain, namun tidaklah selayaknya pendapat atau penyataannya justru meresahkan masyarakat secara luas.

Jadi, kita bisa menilai sendiri, mau pilih calon presiden yang pesimistis atau yang optimistis. Dua kandidat calon presiden Joko Widodo akan berhadapan kembali dalam pertarungan memperebutkan posisi orang nomor 1 di Indonesia. Sebagai rakyat, kewajiban kitalah untuk memilih pemimpin yang positifr, yang bekerja benar-benar untuk kemakmuran rakyat dan mensejahterakan rakyat untuk hari ini dan masa depan.

Tinggalkan balasan