Menguji Kekuatan IHSG ditengah gejolak sentimen negatif

1
1100
Luar Biasa !!!, Rupiah Ahir Pekan Ini Ditutup di Angka Rp 14.300
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: cnbnindonesia.com

Jakarta, PartaiPPP.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan penguatan pada Selasa (25/9).

Indeks rebound dari posisi kemarin yang merosot 1,27% atau 75 poin menjadi 5.882.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto sebleumnya mengatakan, koreksi indeks kemarin menutup gap, dan masih tersisa sedikit.

“Namun investor asing mencatatkan net buy, sehingga indikasinya IHSG akan rebound dalam jangka pendek” kata William. Dia memperkirakan, IHSG hari ini berbalik menguat dan bergerak di rentang 5.870 – 5.950.

Beberapa analis lainnya, melihat IHSG dikelilingi sentimen negatif dan akan melemah hari ini. Apalagi, ketegangan perang dagang makin menjadi setelah AS dan China sama-sama menerapkan tarif baru atas produk impor negara lawan, kemarin.

sentimen pelemahan bisa datang dari sikap pasar yang mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia 7 Day Repo Rate pada pekan ini.

Bank sentral AS Federal Reserve akan menggelar rapat pertemuan pada Selasa dan Rabu ini (25-26/09). Sementara Bank Indonesia mengumumkan penentuan bunga setelah rapat Rabu dan Kamis (26-27/09) mendatang.

Dari dalam negeri

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang melihat, sentimen utama yang bisa menyebabkan pelemahan IHSG hari ini cenderung dari domestik. Terutama karena nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 14.900 per dollar AS.

“Kondisi ini justru membuat APBN Indonesia  semakin babak belur, karena akan membuat bengkak subsidi BBM ditengah penantian kenaikan Fed Fund Rate (FFR) oleh Bank Sentral AS atau The Fed, serta menunggu respons Bank Indonesia atas kenaikan FFR tersebut,” jelasnya, Selasa (25/9).

Di samping itu, Edwin memperkirakan defisit transaksi berjalan atau Curent Account Deficit Indonesia pada kuartal III 2018 masih tetap tinggi, di mana di kuartal II 2018 CAD mencapai 3,04% dari Produk Domestik Bruto atau senilai US$ 8 miliar. CAD ini lebih tinggi dari kuartal I 2018 yakni sebesar US$ 5,7 miliar.

Dari sisi Rupiah, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak melemah. Apabila pelemahan terus terjadi, bukan tidak mungkin dolar AS kembali menembus level Rp 14.900.

Pada Selasa (25/9/2018), US$ 1 dihargai Rp 14.865 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,03% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Seiring perjalanan pasar, rupiah terus melemah. Pada pukul 08:17 WIB, US$ 1 sudah berada di Rp 14.880 di mana rupiah melemah 0,13%.

Bahkan pada pukul 08:28 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.890, kali ini rupiah sudah melemah 0,2%. Lagi-lagi dolar AS menguji level Rp 14.900.

Tidak hanya rupiah, berbagai mata uang utama Asia juga melemah di hadapan dolar AS. Dengan depresiasi 0,13%, rupiah jadi mata uang terlemah ketiga di Asia. Sejauh ini, hanya rupee India dan yuan China yang melemah lebih dalam ketimbang mata uang Tanah Air.

Laporan:
Rikza, Panin Asset Management
085691362899

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini