Luar Biasa !!!, Rupiah Terus Menguat Ahir Pekan Ini Dibanderol Rp 14.300 Per 1US$

0
127
Luar Biasa !!!, Rupiah Ahir Pekan Ini Ditutup di Angka Rp 14.300
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: cnbnindonesia.com

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Dolar AS masih berada di kisaran Rp 14.300. Pada Jumat (30/11/2018), US$ 1 dibanderol Rp 14.300 kala penutupan pasar spot. Rupiah menguat 0,56% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri pekan ini dengan catatan buruk. Dibuka melemah 0,04%, IHSG mengakhiri hari dengan memperlebar kekalahannya menjadi 0,84% ke level 6.056,13.

Perdagangan berlangsung luar biasa ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 16,8 triliun. Volume perdagangan adalah 14,07 miliar unit saham dan frekuensi perdagangan adalah 447.274 kali.

IHSG melemah kala mayoritas bursa saham utama kawasan Asia diperdagangkan menguat: indeks Nikkei naik 0,4%, indeks Shanghai naik 0,81%, indeks Hang Seng naik 0,21%, dan indeks Strait Times naik 0,19%. Hanya indeks Kospi yang melemah, yakni sebesar 0,82%.

Kinerja bursa saham Benua Asia terdongkrak oleh rilis notulensi rapat (minutes of meeting) The Federal Reserve edisi November 2018. Dalam rapat tersebut, ada aura dovish yang muncul. Para peserta rapat semakin menggarisbawahi bahwa ada risiko yang menghantui perekonomian AS. “Ada pertanda perlambatan di sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga,” sebut notulensi itu.

Kemudian, para peserta rapat juga menekankan pentingnya berkaca kepada data (data dependent) dalam pengambilan keputusan.

“Para peserta menyiratkan bahwa sepertinya dalam rapat-rapat ke depan perlu ada perubahan bahasa penyampaian, di mana ada kalimat yang menyatakan pentingnya evaluasi terhadap berbagai data dalam menentukan arah kebijakan. Perubahan ini akan membantu memandu Komite dalam situasi perekonomian yang dinamis,” tulis notulensi tersebut.

Pernyataan tersebut diartikan sebagai sinyal bahwa The Fed mungkin akan mengurangi kadar kenaikan suku bunga acuan. Sebagai informasi, The Fed memproyeksikan akan ada sekali lagi kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini, yakni pada bulan Desember. Untuk tahun depan, normalisasi diproyeksikan sebanyak 3 kali.

Data ekonomi teranyar di AS memang menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Personal Comsumption Expenditure (PCE) inti atau Core PCE yang menjadi prefensi The Fed dalam mengukur inflasi tercatat sebesar 1,8% YoY pada bulan Oktober, melambat dibandingkan capaian bulan September yaitu 1,9% YoY. Pencapaian Oktober menjadi yang paling rendah sejak Februari.

Kemudian, klaim tunjangan pengangguran untuk minggu yang berakhir pada 24 November diumumkan sebanyak 234.000 jiwa, lebih tinggi dari konsensus yang sebesar 221.000 jiwa. Capaian pekan lalu juga menjadi yang tertinggi sejak pertengahan Mei.

Kala perang dagang dengan China masih berkecamuk dan kala data ekonomi sudah memberikan sinyal perlambatan, normalisasi yang tak kelewat agresif memang merupakan pilihan terbaik bagi perekonomian AS dan dunia. (partaiPPP.com – Rilis Rikza Panin Asset Management 085691362899)

LEAVE A REPLY

Silahkan tulis komentar Anda
Silahkan tuulis nama Anda