IHSG Menguat 0,98 % Ke Level 5.931,27, Ini Penyebabnya

1
544
Luar Biasa !!!, Rupiah Ahir Pekan Ini Ditutup di Angka Rp 14.300
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: cnbnindonesia.com

Jakarta, PartaiPPP.com – Akibat dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, seluruh pasar modal terpengaruh dengan kebijakan kedua negara adidaya ini. Namun sore ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,98% pada perdagangan hari ini ke level 5.931,27. Nett Buy Investor asing mencapai Rp 221,47 miliar. Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia bergerak senada dengan IHSG. indeks Nikkei naik 0,01%, indeks Strait Times naik 0,22%, indeks Hang Seng naik 0,26%, dan indeks Kospi naik 0,65%.

Sikap AS dan China yang masih menahan diri dalam perang dagang antar keduanya memberikan optimisme bagi investor untuk masuk ke bursa saham Benua Asia. Baru-baru ini, China telah resmi mengumumkan balasan terhadap kebijakan pengenaan bea masuk baru oleh AS. China memutuskan untuk membalas dengan membebankan bea masuk 10% untuk importasi produk buatan AS senilai US$ 60 miliar, berlaku mulai 24 September.

Sementara itu dari dalam negeri, sentimen positif datang dari penguatan rupiah. Hingga akhir perdagangan, rupiah menguat 0,2% di pasar spot ke level Rp 14.840/dolar AS. Greenback memang sedang “loyo”, ditunjukkan oleh indeks dolar AS yang terkoreksi sebesar 0,14%.

Selain karena dolar AS yang memang sedang loyo, rupiah menguat lantaran investor mengapresiasi dirilisnya aturan oleh Kementerian Perdagangan yang mewajibkan ekspor sejumlah komoditas wajib menggunakan Letters of Credit (L/C) dari perbankan nasional. Eksportir nantinya akan diwajibkan mengonversi hasil ekspornya ke rupiah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas valas di pasar dalam negeri sehingga diharapkan mampu menjadi penopang bagi penguatan rupiah.

Secara sektoral, sektor jasa keuangan (+1,13%) dan barang konsumsi (+1,21%) memotori penguatan IHSG. Bagi saham-saham perbankan, rupiah yang menguat memberikan daya tarik tersendiri, selain juga karena sentimen eksternal yang kondusif. Sementara terkait saham-saham barang konsumsi, investor melakukan aksi beli guna merespon kencangnya penjualan mobil di tanah air.

Sepanjang Agustus 2018, penjualan mobil di tanah air tercatat tumbuh sebesar 5,1% YoY menjadi 102.197 unit. Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan Agustus 2017 yang hanya sebesar 1% YoY. Kuatnya penjualan mobil lantas memberikan indikasi bahwa konsumsi masyarakat Indonesia tetap kuat, terlepas dari sudah berlalunya periode Ramadan.

Laporan: Rikza, Panin Asset Management (085691362899)

1 KOMENTAR

Tinggalkan balasan