IHSG Kembali Turun Dibawah 6.000, Rupiah Melemah 0,1%

0
178
Luar Biasa !!!, Rupiah Ahir Pekan Ini Ditutup di Angka Rp 14.300
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: cnbnindonesia.com

Indeks harga Saham Gabungan (IHSG), pada hari ini berahir di zona merah karena tak kuasa melawan pelemahan nilai tukar Rupiah. Pelemahan nilai tukar rupiah memicu para pemdodal asing melakukan akumulasi jual.

IHSG tercatat turun 0,37% ke level 5.991,25 atau kehilangan 22,24 dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Aktivitas perdagangan tercatat cukup semarak dimana volume perdagangan mencapai 12,72 miliar senilai Rp 9,73 triliun dari frekuensi 440.986 kali.

Pemodal asing tercatat melakukan net sell senilai Rp 235 miliar. Dimana saham-saham yang paling banyak dilepas pemodal asing, diantranya saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 339,05 miliar, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp 121,46 miliar.

Demikian pula saham PT Indika Energy Tbk (INDY) dilepas Rp 89,87 miliar dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas asing senilai Rp 80,42 miliar.

Secara sektoral, indeks sektor infrastruktur mengalami koreksi paling dalam 2,33%, sektor industri dasar turun 1,62% dan barang konsumsi 0,15%.

Sentimen negatif yang mempengaruhi perdagangan di bursa domestik adalah nili tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah lagi di perdagangan pasar spot hari ini. Pelemahan ini membuat rupiah terdepresiasi selama 2 hari beruntun.

Pada Rabu (28/11/2018), US$ 1 dibanderol Rp 14.525 kala penutupan pasar spot. Rupiah melemah 0,1% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Investor memilih dolar AS selagi menunggu dua momen penting yang melibatkan The Federal Reserve/The Fed. Pertama adalah pidato Jerome ‘Jay’ Powell, Gubernur The Fed, dalam acara The Federal Reserve’s Framework for Monitoring Financial Stability di New York.

Pelaku pasar ingin mencari petunjuk langsung dari sang The Fed-1 mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan tiga kali pada 2019. Namun untuk kenaikan ketiga, suara pelaku pasar masih terbelah sehingga masih ada kemungkinan Federal Funds Rate hanya naik dua kali.

Selain mencari petunjuk dari pidato Powell, pelaku pasar juga mencermati momen kedua yaitu notulensi hasil rapat (minutes of meeting) The Fed edisi November 2018. Komite pengambil kebijakan The Fed, Federal Open Market Committee (FOMC), memang memutuskan suku bunga acuan ditahan 2-2,25%. Akan tetapi, ya itu tadi, investor ingin mencari kejelasan soal arah kebijakan moneter pada 2019.

Sembari menantikan dua momen tersebut, investor condong merapat ke dolar AS. Mata uang negara-negara berkembang mengalami tekanan jual, termasuk rupiah.

Sementara itu, bursa saham Asia pada perdagangan hari mengalami penguatan hari ini karena harapan untuk hasil positif dari pembicaraan perdagangan tinggi Donald Trump dengan Xi Jinping. Sementar itu, The Fed melontarkan komentar yang diterjemahkan pelaku pasar sebagai sinyal menahan laju kenaikan suku bunga.

Penasehat ekonomi Presiden AS Donald Trump, Larry Kudlow menyampaikan kemungkinan kesepakatan perdagangan ketika para pemimpin dua negara teratas dunia bertemu Sabtu.

“Presiden mengatakan ada kemungkinan yang baik kita dapat membuat kesepakatan dan dia terbuka untuk itu tetapi kondisi tertentu harus dipenuhi, hal-hal tertentu harus diubah,” kata Kudlow pada briefing Gedung Putih.

Hal ini membuat bursa saham Hong Kong melonjak 1,3%, Shanghai ditutup naik 1,1%, bursa Tokyo naik satu persen, bursa Singapura naik 0,3%, dan bursa Seoul naik 0,4%. (PartaiPPP.com – Rilis ,Rikza Panin Asset Management 085691362899)

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini