Akhir Pekan, IHSG Ditutup Menguat Ke Level 5.957,74

1
496
Luar Biasa !!!, Rupiah Ahir Pekan Ini Ditutup di Angka Rp 14.300
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: cnbnindonesia.com

Jakarta, PartaiPPP.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan penguatan lagi di akhir pekan ini, Jumat (21/9). IHSG yang menguat untuk hari ketiga berturut-turut, bertambah 26,48 poin atau 0,45% menjadi 5.957,74. Asing kembali melakukan aksi beli atau Nett Buy sebesar Rp 1.1 Triliun.

Dengan penguatan ini, Index Harga Saham Gabungan atau IHSG mencetak kenaikan 0,45% selama sepekan terakhir. Ini pun menjadi pekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kedua yang menguat dari tiga pekan di bulan September.

Baca juga:

Saham-saham pelat merah menopang indeks hari ini. Saham LQ45 yang menjadi top gainers antara lain PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang naik 4,79% menjadi Rp 7.650 per saham, PT PP Tbk (PTPP) sebesar 4,64% menjadi Rp 1.580, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 4,57% menjadi Rp 3.660 per saham.

Dalam 5 hari perdagangan terakhir, mata uang Tanah Air menguat 0,39%. Aliran dana asing mengalir cukup deras ke pasar keuangan domestik. Di pasar obligasi pemerintah, kepemilikan investor asing pada 19 September tercatat Rp 837,16 triliun. Naik 0,45% dibandingkan posisi 5 hari perdagangan sebelumnya.

Arus modal ini menurunkan imbal hasil (yield) lumayan signifikan. Saat ini, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun ada di 8,189%. Turun 23,8 basis poin (bps) dibandingkan posisi 5 hari perdagangan sebelumnya.

Penurunan yield menandakan harga instrumen ini sedang naik karena tingginya minat pelaku pasar. Derasnya arus modal di pasar keuangan mampu membawa rupiah menguat.

Sementara dalam sepekan terakhir, Dollar Index (yang mencerminkan posisi dolar AS secara relatif terhadap enam mata uang utama dunia) anjlok sampai 1,02%. Ini merupakan koreksi mingguan terdalam 7 bulan terakhir.

Baca juga:

Sentimen negatif dari perang dagang AS vs China dominan dan menjadi pemberat laju dolar AS. Biasanya, pelaku pasar merespons isu perang dagang dengan memasang mode risk-on, ogah mengambil risiko. Maklum, perang dagang antar dua raksasa ekonomi dunia itu dapat mempengaruhi arus perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Perilaku ini menyebabkan flight to quality, yaitu perpindahan dana ke aset-aset yang dinilai lebih aman dan menjanjikan. Dolar AS adalah salah satunya. Oleh karena itu, perang dagang awalnya menjadi momentum bagi laju dolar AS karena tingginya permintaan terhadap mata uang ini.

Namun sekarang situasinya berbeda. Pelaku pasar justru khawatir perang dagang bakal melukai ekonomi AS sendiri. Sebab, bagaimanapun AS masih butuh barang impor dari China, baik itu bahan baku, barang modal, sampai barang konsumsi.

Jika impor produk China menjadi mahal karena bea masuk, maka akan menciptakan ekonomi biaya tinggi. Hasilnya bisa berupa inflasi, penurunan produksi manufaktur, sampai perlambatan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Laporan:
Rikza, Panin Asset Management
085691362899

1 KOMENTAR

Tinggalkan balasan